jump to navigation

Perbaikan Tabiat Melalui Al-Qur’an November 29, 2010

Posted by tikpad in Islam, konsep.
add a comment

Mereka yang hanya mengandalkan logika saja sebenarnya sama saja dengan orang-orang yang berkekurangan dalam tindakan dan keimanan serta ketulusan perilaku, sebagaimana juga mereka berkekurangan dalam pengetahuan, pemahaman dan keyakinan. Kelompok orang-orang seperti ini tidak pernah menjadi teladan atau dimasukkan ke dalam kelompok jutaan orang-orang suci yang menjadi hamba Allah yang diridhoi oleh-Nya.

Berkat dari orang-orang suci itu demikian nyata dimana mereka melalui khutbah, peringatan, doa dan perhatian serta pengaruh keakraban diri mereka telah menyadarkan banyak orang untuk kembali ke jalan yang lurus dan sepenuhnya menjadi hamba-hamba Allah. Mereka ini tidak memperdulikan dunia dengan isinya serta mengasingkan diri mereka dari kenyamanan, kesukaan, martabat, kebanggaan, harta milik dan kerajaan duniawi. Mereka mengikuti jalan takwa dimana karenanya ratusan dari mereka telah kehilangan nyawa dan ribuan kepala telah terpenggal sehingga bumi menjadi basah karena darah orang-orang suci tersebut.

Meskipun menghadapi berbagai bencana seperti itu, mereka tetap saja memperlihatkan kesetiaan kepada Tuhan mereka sebagai¬mana laiknya seorang pencinta yang setia. Mereka hanya tertawa ketika kaki mereka dibelenggu dan merasa gembira ketika ditimpakan kesakitan serta bersyukur di tengah mala petaka. Demi kecintaan kepada yang Maha Esa, mereka rela meninggalkan rumah-rumah mereka, lebih memilih kehinaan daripada kemashuran, lebih menyukai kesulitan daripada kenyamanan, lebih memilih kemiskinan daripada kekayaan serta puas dengan kepapaan dan pengasingan serta ketidak-berdayaan daripada kawan-kawan dan kesukaan. Dengan mengalirkan darah, terpenggalnya kepala atau menyerahkan nyawa, mereka telah memeterai kebenaran eksistensi daripada Tuhan. Berkat dari mengikuti Firman Tuhan, mereka telah memperoleh Nur yang tidak ada padanannya pada orang lain. Orang-orang seperti itu tidak hanya terdapat di masa lalu karena kelompok manusia pilihan seperti itu selalu ada di dalam Islam dan mereka ini menangkal para lawan mereka dengan kecemerlangan diri mereka.

Dengan demikian kami telah membuktikan secara konklusif bahwa sebagaimana Al-Qur’an bisa membawa seseorang ke tingkat kesempurnaan intelektual yang tinggi, begitu jugalah dengan melaluinya seseorang akan mencapai kesempurnaan dalam perilaku. Nur dan tanda-tanda keridhoan Allah s.w.t. telah muncul dan akan selalu terlihat pada mereka yang mengikuti Firman Suci. Bagi seorang pencari kebenaran, hal seperti ini menjadi bukti yang bisa dilihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa berkat surgawi dan tanda-tanda Ilahi hanya bisa ditemukan di antara para penganut Kitab Suci Al-Qur’an. Adapun aliran atau sekte lainnya seperti Brahmo Samaj, kaum Arya dan kaum Kristiani yang menyangkal adanya wahyu, sesungguhnya dikaliskan dari Nur kebenaran tersebut…(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 350-352, London, 1984).

sumber : www.ahmadiyya.or.id

Mengapa Saya Percaya Kepada Islam? November 29, 2010

Posted by tikpad in Islam, konsep.
add a comment

Berikut ini adalah intisari tulisan Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, khalifah ke 2 dari Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud) dan Mahdi, pendiri Gerakan Ahmadiyah dalam Islam.

Saya diminta untuk menyatakan mengapa saya percaya agama Islam. Ketika pertanyaan ini ditanyakan pada diri saya sendiri, jawaban yang ada adalah, untuk alasan yang sama mengapa saya percaya pada hal-hal lainnya, sebab itu semua adalah kebenaran. Jawaban yang lebih rinci menurut pendapat saya adalah doktrin utama dari semua agama adalah keberadaan Tuhan dan hubungan manusia dengan Dia, jadi agama yang sejati adalah yang dapat mewujudkan suatu hubungan hakiki antara Tuhan dengan manusia, dan adanya kebenaran atas suatu keyakinan adalah benar-benar merupakan suatu alasan yang berharga untuk mempercayai kebenaran.

Islam menyatakan bahwa Pencipta alam semesta ini adalah Tuhan yang hidup dan Dia menyatakan diri-Nya kepada makhluk-Nya pada zaman ini dengan cara yang sama sebagaimana Dia telah menyatakan diri-Nya di masa lalu. Pernyataan ini dapat diuji dengan dua cara. Tuhan memanifestasikan tanda-tanda-Nya secara langsung kepada orang yang mencari diri-Nya, atau orang yang mencari-Nya mungkin dapat mempercayai Tuhan dengan mempelajari kehidupan seseorang dimana Tuhan telah menyatakan diri-Nya kepadanya. Atas karunia Tuhan, saya menjadi salah satu dari orang-orang yang kepada mereka Tuhan menyatakan diri-Nya di banyak peristiwa dengan suatu cara yang menakjubkan. Saya tidak lagi memerlukan alasan untuk mempercayai kebenaran Islam dibandingkan dengan kebenaran yang telah saya alami dalam diri saya sendiri.

Untuk kepentingan orang-orang yang tidak memiliki pengalaman yang sama seperti saya, bagaimanapun juga, akan saya berikan tambahan dari pengalaman saya yang menjadi sebab kepercayaan saya kepada Islam. (more…)

Nabi Suci Muhammad saw. menurut Imam Mahdi as November 3, 2010

Posted by tikpad in Islam, konsep.
add a comment

imammahdi

“Cahaya agung yang dianugerahkan kepada manusia yang paripurna tidak terdapat pada wujud malaikat, tidak pula pada bintang-kemintang, tidak pula pada sang rembulan, tidak pula pada sang surya.  Cahaya itu tidak terdapat pula di samudera-samudera dan sungai-sungai di dunia.  Cahaya itu pula tidak terdapat di dalam batu-batu mirah delima atau yaqut atau zamrud atau permata nilam atau mutiara.  Pendek kata, tidak terdapat di semua benda duniawi atau samawi.  Hanyalah dalam diri sang manusia, yakni, di dalam diri manusia paripurna yang perwujudannya yang penuh, sempurna, tinggi lagi luhur adalah terdapat pada Majikan serta Junjungan kita, Penghulu segala nabi, Penghulu segala makhluk hidup, Muhammad Musthafa shallallahu `alaihi wasallam. Jadi, cahaya itu dilimpahkan kepada manusia itu dan menurut urutan martabatnya, kepada seluruh pribadi yang sewarna dengannya, yakni, kepada orang-orang yang sampai pada kadar tertentu mengandung warna itu pula.  Kemegahan setinggi-tingginya, sesempurna-sempurnanya, dan selengkap-lengkapnya ada pada Majikan kita, Junjungan kita, pemandu jalan kita, Nabi Ummi, Shadiq, Mashduq [wujud yang kebenarannya diakui] Muhammad Musthafa shallallahu `alaihi wassallam.” (Ruhani Khazain, jld. 5, Aina Kamalati Islam, hlm. 120-121)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.